Kamis, 01 September 2011

Memaknai "Idul Fithri" dengan "Kembali kepada fithrah (kembali suci)", adalah SALAH KAPRAH, baik secara lughah maupun syara'.



Kesalahan memaknai Idul Fithri dengan "Kembali kepada Fithrah (kembali suci)", dapat dijelaskan sebagai berikut:

I. Kesalahan Secara Lughah (Bahasa)

Kata "Fithri" dalam Idul Fithri, diambil dari lafazh "fithru/ifthaar", yang artinya menurut bahasa adalah berbuka (berbuka puasa jika terkait dengan puasa).

Jadi, Idul Fithri artinya "hari raya berbuka puasa". Yakni, hari di mana kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah selama sebulan berpuasa. Fithri di sini ditulis dengan huruf "fa-tha-ra"

Adapun kata Fithrah yang juga memiliki arti suci, ditulis dengan huruf "fa-tha-ra dan ta marbuthah".

Sedangkan kata Fithri yang dipakai dalam kata Idul Fithri adalah yang ditulis denga huruf"fa-tha-ra" (ﻒﻄﺮ) yang berarti berbuka. Dari sini sudah jelas kesalahan mereka yang memaknai Idul Fithri secara lughah (bahasa).

II. Kesalahan Secara Syara'

Makna Idul Fithri telah dijelaskan secara syara' oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits berikut:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ"
Puasa itu pada hari (ketika) kalian semua  berpuasa, Idul Fithri pada hari ketika kalian semua ber-Idul Fithri (berbuka)dan Idul Adha ketika kalian semua ber-Idul Adha (menyembelih/berkurban)."

[Hadits Riwayat at-Tirmidzi dalam Sunannya (no: 633), dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah ash-Shahihah (no: 224)].

Hadits di atas dengan tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya di mana kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa).

Oleh karena itu, disunahkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat 'Ied. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri.Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan TIDAK ADA KHILAF di antara mereka.

Bukan artinya "kembali kepada fithrah (suci)", karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi:
"Al-Fithru (suci) itu ialah pada hari ketika kalian semua bersuci."
Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar Jahil tentang Dalil-dalil Sunnah dan lughah/bahasa.

 Adapun ucapan yang diucapkan oleh kaum muslimin ketika mereka bertemu di hari ied adalah "Taqobbalallaah minnaa wa minkum" bukan minal aidzin wal faidzin seperti yang banyak di lakukan oleh kaum muslimin kebanyakan sekarang ini karena itu pula yang di contohkan para sahabat Rosulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam.

Dari Jubair bin Nufair rahimahullaah berkata:"dahulu para shahabat Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam radhiyallaahu 'anhum jika mereka bertemu pada hari 'ied,sebagian mereka berkata kepada sebagian yg lainnya 'taqabbalallaah minnaa wa minkum (dihasankan oleh As-Suyuuthii di Wushuul Al-Amaani Bi Ushuul At-Tahaanii hal 57 dan Asy-Syaikh Albani di Tamaam Al-Minnah hal 355 rahimahumullaah).

Ucapan Selamat Pada Hari Raya oleh : Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi

بسم الله الرحمن الرحيمالتهنئة يوم العيدلا أعرف في ذلك شيئا عن السلف إلا أن يكون مبادلة للتهنئة بالتهنئة. وكان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يتبادلون التهاني يأخذ بعضهم بيد بعض ويهني بعضهم بعضا. وقد ذكر ذلك ابن قدامة في المغني 3/294-295 :"قال أحمد‏,‏ -رحمه الله-‏:‏ ولا بأس أن يقول الرجل للرجل ‏:‏ يوم العيد‏:‏ تقبل الله منا ومنك, وقال حرب‏:‏ سئل أحمد عن قول الناس في العيدين تقبل الله منا ومنكم قال‏:‏ لا بأس به, يرويه أهل الشام عن أبي أمامة قيل‏:‏ واثلة بن الأسقع‏؟‏ قال‏:‏ نعم, قيل‏:‏ فلا تكره أن يقال هذا يوم العيد قال‏:‏ لا, وذكر ابن عقيل في تهنئة العيد أحاديث منها‏,‏ أن محمد بن زياد قال‏:‏ كنت مع أبي أمامة الباهلى وغيره من أصحاب النبي - صلى الله عليه وسلم- فكانوا إذا رجعوا من العيد يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك, وقال أحمد‏:‏ إسناد حديث أبي أمامة إسناد جيد وقال علي بن ثابت‏:‏ سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال‏:‏ لم نزل نعرف هذا بالمدينة, وروي عن أحمد أنه قال‏:‏ لا أبتدى به أحدا‏,‏ وإن قاله أحد رددته عليه"‏.‏ وبالله التوفيق.أملى هذه الفتوىفضيلة الشيخ أحمد بن يحيى النجميبسم الله الرحمن الرحيم

Ucapan Selamat Pada Hari Raya
Syaikh kami Mufti KSA bagian selatan Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhahullah
berkata : “Saya tidak mengetahui tentang hal tersebut dari salaf sedikit-pun selain dalam rangka saling mengucapkan selamat.

Dahulu para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saling mengucapkan selamat. Sebagian mereka menggandeng tangan sebagian lainnya dan saling mengucapkan selamat.

Ibnu Qudamah menyebutkan hal tersebut dalam Al Mughni 3/294-295 :
“Ahmad rahimahullah berkata : “Tidak mengapa seseorang mengucapkan taqabbalallahu minna waminkum terhadap saudaranya pada hari raya”.

Harb berkata : Ahmad pernah ditanya tentang ucapan manusia taqabbalallahu minna waminkum pada dua hari raya. Dia menjawab : “Tidak mengapa. Salah seorang penduduk Syam meriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili”.

Ditanyakan : (Apakah) Watsilah bin Al Asqa’ ? Ahmad menjawab : “Ya”. Ditanyakan : Apakah anda tidak memakhruhkan ucapan ini diucapkan pada hari raya ?
Ahmad menjawab : “Tidak”.Ibnu ‘Aqil menyebutkan beberapa hadits tentang ucapan selamat pada hari raya,

diantaranya adalah bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : Saya pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dahulu apabila mereka kembali dari berhari raya, mereka saling mengucapkan taqabbalallahu minna waminka.
Ahmad berkata : “Isnad hadits Abu Umamah adalah isnad yang baik.

Ali bin Tsabit berkata : “Saya bertanya kepada Malik bin Anas sejak 35 tahun yang lalu dan dia menjawab : “Kami selalu mengetahui hal ini di Madinah”.

Dan diriwayatkan dari Ahmad bahwa dia berkata : “Saya tidak memulai untuk mengucapkan salam kepada seorang-pun, tetapi jika ada seseorang mengucapkannya, maka aku balas dengan balasan serupa”.

Selesai.

Wabillahit-taufiq.
Yang mendikte fatwa ini Yang mulia Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi
(ttd)09 Syawal 1428 H
Alih bahasa olehAbu Abdillah Muhammad Yahya
09 Syawal 1428 H/20 Oktober 2007
Nijamiyah-Shamithah-JazanSumber : salafi-indonesia@yahoogroups.com

Selasa, 30 Agustus 2011

Orang Yang Melihat Hilal Sendirian, Apa Yang Wajib Dia Lakukan?

 


Misalnya dia melapor ke pemerintah bahwa dia melihat hilal akan tetapi pemerintah tidak menerima persaksiannya. Kalau yang dia lihat adalah hilal ramadhan maka ada dua pendapat di kalangan ulama:

1. Wajib atasnya berpuasa walaupun dia sendirian. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad dan mayoritas ulama. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ash-Shan’ani dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin. Mereka berdalil dengan keumuman ayat dan hadits yang memerintahkan berpuasa bagi orang yang melihat hilal, sementara orang ini telah melihatnya.

2. Dia harus ikut kepada orang-orang di negerinya. Ini adalah pendapat Asy-Sya’bi, Al-Hasan, Ibnu Sirin dan salah satu riwayat dari Ahmad. Ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al-Albani. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah riwayat At-Tirmizi di atas.

Yang kuat adalah pendapat mayoritas ulama. Adapun dalil pendapat kedua dijawab bahwa hadits itu berlaku bagi orang yang tidak mengetahui adanya hilal yang berbeda dengan hilal negerinya atau dia belum yakin akan munculnya hilal, sebagaimana telah diterangkan di atas.

Adapun kalau yang dia lihat adalah hilal syawal, maka juga ada dua pendapat di kalangan ulama:

1. Dia tetap berbuka akan tetapi tidak terang-terangan untuk menjaga persatuan dan jangan sampai disangka dia tidak mau taat kepada pemerintah. Ini adalah mazhab Asy-Syafi’i, salah satu riwayat dari Ahmad, dan yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm. Adapun masalah shalat, maka hendaknya dia shalat bersama pemerintah di negerinya. Mereka berdalilkan dengan keumuman perintah berbuka ketika melihat hilal syawal.

2. Dia tidak boleh berbuka dan harus tetap berpuasa bersama penduduk negerinya. Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat At-Tirmizi di atas.

Yang kuat adalah pendapat pertama. Jawaban atas dalil pendapat kedua telah disebutkan di atas.

[Majmu' Al-Fatawa: 25/114-118, Al-Mughni: 3/47, At-Tamhid: 7/158-159, As-Subul: 3/217-218, Al-Muhalla no. 757, Kitab Ash-Shiyam: 1/154, dan Asy-Syarhul Mumti': 6/328-330]

Jika Dia Mendapat Kabar Dari Orang Lain Bahwa Hilal Sudah Nampak.

Sekelompok ulama Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa dia tetap wajib untuk berpuasa walaupun pemerintah tidak menerima persaksian orang itu, selama orang yang mengabarinya adalah jujur, walaupun dia sendirian.

Adapun pada hilal syawal, maka dipersyaratkan saksi atau yang mengabarinya harus minimal dua orang. Ini adalah pendapat Malik, Al-Laits, Al-Auzai, Ats-Tsauri, salah satu dari dua pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ibnu Al-Mubarak dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.

[Al-Majmu': 6/277, Al-Mughni: 3/48, dan Al-Muhalla no. 757]

Orang Yang Terlambat Mendapatkan Kabar Tentang Adanya Hilal

Jika hilalnya ramadhan, yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan hendaknya dia langsung berpuasa walaupun dia telah makan sebelumnya, dan itu sudah syah baginya, tidak perlu diqadha`. Ini adalah pendapat Umar bin Abdil Aziz, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiah dan yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani dan Shiddiq Hasan Khan dalam Ar-Raudhah.

Mereka berdalilkan kisah ketika diwajibkannya puasa asyura yang ketika itu Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- umumkan di pagi hari dimana beliau bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa maka hendaknya dia melanjutkan puasanya, dan barangsiapa yang telah berbuka (makan sebelumnya) maka hendaknya dia menyempurnakan berpuasa pada sisa harinya.” (HR. Muslim dari Salamah bin Al-Akwa’)

Jika hilalnya syawal, maka Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/161) menukil ijma’ ulama akan wajibnya mereka berbuka ketika itu juga dan langsung mengerjakan shalat id jika kabarnya diterima sebelum tergelincirnya matahari. Adapun jika kabarnya diterima setelah matahari tergelincir maka yang kuat adalah bahwa shalat id dikerjakan keesokan paginya karena para ulama bersepakat bahwa shalat id tidak boleh dikerjakan setelah tergelincirnya matahari. Ini adalah pendapat Ats-Tsauri dan yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil rahimahullah.

[Al-Mughni: 3/33, Al-Majmu': 6/271, Al-Muhalla: 4/293-294, dan Al-Inshaf: 3/254]

Dinukil dari: http://al-atsariyyah.com/seputar-hilal.html

Jika Ada Sebuah Negeri Yang Melihat Hilal (Ramadhan/Syawal), Apakah Wajib Atas Negeri Lainnya Untuk Mengikutinya (Berpuasa/Berbuka)?



Tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari bahwa setiap negeri mempunyai hilal tersendiri, karena hal itu adalah kenyataan dan juga sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Kuraib yang akan datang. Hanya saja yang mereka perselisihkan adalah, jika sudah ada sebuah negeri yang lebih dahulu melihat hilal lantas dia mereka mengabarkannya ke negeri-negeri lain, apakah semua negeri tersebut harus mengikutinya ataukah mereka menunggu hilal di negeri mereka masing-masing?

Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini, di antaranya:

1. Wajib atas seluruh negeri lainnya untuk mengikutinya. Ini adalah pendapat Al-Hanafiah, Al-Malikiah, Asy-Syafi’i dan sebagian Asy-Syafi’iyah, dan yang masyhur dalam mazhab Imam Ahmad, juga merupakan mazhab Al-Laits bin Sa’ad. Ini yang dikuatkan oleh banyak ulama di antaranya: Ibnu Taimiah sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa, Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz.

Mereka berdalil dengan ayat 185 dari surah Al-Baqarah, “Maka barangsiapa di antara kalian yang melihatnya (hilal ramadhan) maka hendaknya dia berpuasa.” Dan juga hadits Abu Hurairah secara marfu’, “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal ramadhan) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal syawal).” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081) Dan juga hadits Ibnu Umar yang telah berlalu.

Mereka mengatakan bahwa perintah dalam hadits ini ditujukan kepada seluruh kaum muslimin tanpa ada pengkhususan pada daerah tertentu. Sama seperti ketika diperintah shalat maka perintahnya berlaku umum untuk seluruh kaum muslimin di berbagai negeri, tidak terkhusus pada kaum muslimin di tempat tertentu. Lihat ucapan Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (4/194)

Mereka juga mengatakan bahwa pendapat ini lebih menyatukan kaum muslimin dan menampakkan syiar Islam di berbagai negeri tatkala secara serentak mereka semua berpuasa, dan itu memberikan pengaruh tersendiri kepada musuh-musuh Islam.

2. Yang wajib mengikutinya hanyalah negeri yang semathla’ (tempat terbitnya matahari) dengan negeri yang melihatnya. Ini adalah mazhab Asy-Syafi’iyah, sebagian Al-Malikiah dan Al-Hanafiah, dan salah satu pendapat Ahmad. Ini adalah pilihan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid dan Ibnu Taimiah dalam Al-Ikhtiyarat, serta yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.

Mereka juga berdalil dengan dalil yang sama dengan pendapat pertama, hanya saja mereka mengatakan perintah pada dalil-dalil tersebut ditujukan kepada negeri-negeri yang semathla’ dengannya.


3. Setiap negeri tidak wajib mengikutinya, tapi mereka menunggu hilal di negeri mereka masing-masing. Ibnu Al-Mundzir menukil pendapat ini dari Ikrimah, Al-Qasim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, dan Ishaq bin Rahawaih.

Mereka berdalilkan dengan kisah Abu Kuraib yang diutus oleh Ibnu Abbas yang berada di Madinah untuk menuju Syam. Dia diutus pada bulan sya’ban kemudian kembali ke Madinah di akhir bulan ramadhan. Lalu Ibnu Abbas bertanya kepadanya, “Kapan kalian melihat hilal (ramadhan)?” dia menjawab, “Kami melihatnya pada malam jumat,” Ibnu Abbas berkata, “Akan tetapi kami melihatnya pada malam sabtu. Maka kami akan tetap berpuasa sampai 30 hari atau kami melihatnya (hilal syawal).” Maka Kuraib berkata, “Kenapa kamu tidak mencukupkan dengan (baca: mengikuti) rukyat dan puasanya Muawiah (Amirul Mukminin yang ketika itu berdiam di Syam)?” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, demikianlah yang Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- perintahkan kepada kami.” (HR. Muslim no. 1078)

4. Setiap negeri mengikuti pemimpinnya, kalau dia berpuasa maka mereka juga ikut berpuasa, dan kalau tidak maka mereka tidak boleh berpuasa. Demikian pula halnya dalam idul fithr. Kalau umat Islam mempunyai khalifah lantas dia menetapkan berpuasa maka wajib atas seluruh kaum muslimin untuk mengikutinya.

Mereka berdalil dengan hadits:

الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُوْمُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

“Waktu berpuasa adalah hari ketika semua orang berpuasa dan hari berbuka adalah hari ketika semua orang berbuka.” (HR. At-Tirmizi no. 697 dari Abu Hurairah)

Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/311), “Yang diamalkan oleh manusia pada umumnya di zaman ini adalah pendapat ini, yaitu jika pemerintah sudah menetapkan maka wajib atas seluruh rakyat yang berada di bawah wilayahnya untuk mengikutinya dalam hal berpuasa dan berbuka (lebaran).”


Tarjih:

Pendapat yang paling tepat adalah pendapat yang pertama.

Adapun pendapat yang kedua maka kita katakan bahwa perbedaan mathla’ adalah perkara yang tidak bisa ditetapkan dengan batasan dan ukuran tertentu. Apa yang menjadi batasan dalam menggolongkan sebuah negeri ikut ke mathla’ ini dan yang lainnya tidak?! Karenanya Syaikh Al-Albani berkata dalam Tamamul Minnah, “Mathla-mathla’ adalah perkara nisbi, dia tidak mempunyai batasan nyata yang dengannya manusia bisa mengetahuinya dengan jelas.”

Adapun dalil pendapat ketiga maka itu hanyalah ijtihad dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- semata dan beliau tidak membawakan dalil dari Nabi. Adapun ucapannya, “Tidak, demikianlah yang Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- perintahkan kepada kami,” maka yang dimaksudkan dengannya adalah hadits Ibnu Umar dan Abu Hurairah tentang perintah berpuasa dan berbuka karena melihat hilal. Demikian yang diterangkan oleh Ibnu Taimiah, Ibnu Daqiqil Id, Asy-Syaukani, dan selainnya.

Adapun pendapat yang keempat, maka dalil mereka itu berlaku bagi orang yang berpuasa dengan rukyat negerinya, kemudian di tengah ramadhan datang kabar bahwa hilal di negeri lain terlihat sehari atau dua hari sebelum negerinya. Maka dalam keadaan seperti itu hendaknya dia melanjutkan puasanya bersama penduduk negerinya hingga 30 hari atau mereka melihat hilal. Jawaban semisal ini disebutkan oleh Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam

Catatan:

Walaupun pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, akan tetapi yang berpendapat dengannya hendaknya tidak menampakkan penyelisihannya terhadap pemerintah, guna menjaga persatuan kaum muslimin, sebagaimana yang akan ditengkan setelah ini.

[Al-Majmu': 6/273-274, Al-Mughni: 3/5, Kitab Ash-Shiyam dari Syarhul Umdah: 1/170-175, Fathul Bari no. 1911, Syarh Musllim: 7/197, Majmu' Al-Fatawa: 25/103, Ar-Raudhah An-Nadiyah: 1/224-225, Tamamul Minnah hal. 398, Asy-Syarhul Mumti’: 6/308-312, Taudhihul Ahkam: 3/140, dan Shahih Fiqhus Sunnah: 2/95-96]
 

Minggu, 28 Agustus 2011

RINGTONE DENGAN AYAT AYAT AL-QUR’AN

Semakin maraknya penggunaan telepon selular (Handphone) dikalangan manusia, menyebabkan terjadinya banyak penyalahgunaan yang menyelisihi syariat pada saat menggunakannya. Diantaranya adalah menggunakan ringtone (nada sambung) dengan lantunan musik, lagu, dan yang semisalnya. Sebailknya, sebagian kaum muslimin ada yang enggan menggunakan ringtone dari musik, namun terjatuh dalam kesalahan lain, yaitu menggunakan bacaan ayat-ayat al-qur’an, azan, dan yang semisalnya sebagai ringtone, yang ini juga merupakan bentuk merendahkan ayat-ayat Allah Azza Wajalla tersebut. Walhamdulillah maih banyak ringtone lainnya yang lebih selamat, seperti suara burung, suara dering telepon biasa, atau yang semisalnya yang lebih selamat dan tidak terjatuh dalam perbuatan yang diharamkan. Berikut kami nukilkan fatwa Ulama dalam masalah ini.
FATWA SYAIKH IBRAHIM AR-RUHAILI HAFIZHAHULLAH TA’ALA
Berkata Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah Ta’ala:
Termasuk yang dikhawatirkan menjadikan agama sebagai permainan dan perbuatan sia-sia,apa yang muncul belakangan ini dan menyebar–sangat disayangkan sekali-diantara banyak dari orang-orang yang mulia dan memiliki keutamaan, bahkan kami katakan: tidak terlepas pula sebagian penuntut ilmu, yang menjadikan al-qur’an di telepo-telepon selular mereka sebagai tanda masuknya deringan telepon (ringtone) yaitu potongan (ringtone) untuk menunggu panggilan tatkala ada yang menghubunginya. Sehingga tatkala tersambung, ayat-ayat dari kitabullah inipun muncul. Tatkala dia ingin menjawabnya, ayat-ayat tersebut terputus ,sehingga seakan-akan kitab Allah dijadikan sebagai hiburan semata, dan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diejek dan dihinakan. Kami tidak berprasangka bahwa orang yang menjadikan hal ini dari mereka yang memiliki kebaikan bahwa dia ingin mengejek. Namun kami katakan: Sesungguhnya kedudukan kitab Allah sepantasnya dibersihkan dari hal-hal seperti ini, demikian pula sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sepantasnya dibersihkan, demikian pula do’a-do’a yang diucapkan oleh para imam, tidak boleh digunakan untuk alat seperti ini.Jika orang yang menggunakanya itu meyakini bahwa itu agama, maka ini termasuk bid’ah, dan jika dia mengetahui bahwa hal itu tidak termasuk agama, namun dia hanya mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut sebagai pengganti ringtone yang bermusik, maka ini termasuk merendahkan kitab Allah Azza Wajalla. Maka sepantasnya kita bersikap pertengahan antara mereka yang berlebihan dan melampaui batas, dengan orang-orang yang fasik yang menggunakan potongan-potongan ringtone musik, dan mengganggu kaum muslimin hingga di masjid-masjid mereka.Alat (HP) ini merupakan nikmat dari Allah Azza Wajalla, sepantasnya digunakan dengan cara yang benar. Ada banyak ringtone yang tidak ada unsur musiknya yang bisa digunakan sebagai tanda masuknya panggilan. Adapun sikap berlebihan dalam perkara ini, sehingga kalian melihat diantara manusia penuh keanehan dalam hal ini, terkadang muncul suara-suara hewan, terkadang anak-anak menangis atau tertawa, demi Allah ini perkara-perkara yang membuat tertawa, menangis, yang muncul dari orang-orang yang kami menyangka mereka memiliki keutamaan, terlebih lagi orang awam. Agama Allah sepantasnya disucikan,kitab Allah sepantasnya disucikan, sunnah sepantasnya disucikan pula, demikian pula do’a, demikian pula ini yang engkau dengarkan sepantasnya dibersihkan dari menjadikannya sebagai alat untuk datangnya panggilan atau menjawabnya melalui alat (HP) ini.

FATWA SYAIKH SALEH AL-FAUZAN HAFIZHAHULLAH
Beliau ditanya : apa pendapatmu tentang orang yang menjadikan handphone-nya sebagai pengganti musik dengan adzan atau bacaa al-qur’an al-karim ?
Beliau menjawab :
“ini termasuk merendahkan azan, zikir, dan al-qur’an al-karim,maka tidak boleh dijadikan sebagai alarm (ringtone). Al-qur’an tidak boleh digunakan sebagai alarm, lalu dikatakan: ini lebih baik dari musik. Apakah anda diharuskan melakukannya? Tinggalkan musik, gunakan alarm yang tidak ada musik padanya dan tidak pula al-qur’an, sekedar pemberi peringatan.Iya”

Sumber:http://sahab.net/forums/showthread.php?t=362872
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
(Dikutip dari http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=82:ringtone-dengan-ayat-ayat-al-quran&catid=25:fataawa&Itemid=53)

Minggu, 19 Juni 2011

Ralat Jadwal Dauroh Masyaikh 2011 M / 1432 H



Bismillaah...

Ralat Waktu Pelaksanaan Dauroh Nasional 2011 (16-17/07/2011)

Dikirim oleh pengelola, Rabu 15 Juni 2011, kategori Info Dakwah

Penulis: Redaksi salafy.or.id



.: :.

RALAT: PERUBAHAN TANGGAL PELAKSANAAN DAURAH MASYAYIKH 1432 H/2011 M



Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, keluarganya, shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau n hingga akhir zaman.



Terkait dengan pengumuman pelaksanaan Kajian Islam Ilmiah Ahlus Sunnah wal Jamaah 1432 H/ 2011 M beberapa waktu yang lalu, ada perubahan tanggal, insya Allah menjadi:



Haril : Sabtu—Ahad,

Tanggal : 14—15 Sya’ban 1432 H/

16—17 Juli 2011 M

Waktu : 09.00—selesai

Tempat : Masjid Agung Manunggal, Bantul, Yogyakarta.





Alhamdulillah, sebuah kabar gembira bagi kaum muslimin di Indonesia. Pada tahun 1432 H (2011 M) ini, kembali akan dilaksanakan daurah ilmiah bersama para ulama dari Timur Tengah.





Di antara masyayikh yang insya Allah akan hadir adalah:



1. Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri (Madinah)

2. Asy-Syaikh Dr. Khalid azh-Zhafiri (lulusan Universitas Islam Madinah)

3. Asy Syaikh Muhammad Ghalib (mahasiswa program doktoral Universitas Islam Madinah), dan

4. Asy-Syaikh Khalid bin Abdirrahman Jad.

Rabu, 08 Juni 2011

Abdullah Ibnu Mubarak (Buah Cinta yang Berasaskan Ketaqwaan)




Inilah kisah indah percintaan seorang tabi’in mulia. Namanya Mubarak.
Dulu, Mubarak itu seorang hamba. Tuannya memerdekakannya kerana keluhuran pekerti dan kejujurannya. Setelah merdeka ia bekerja pada seorang kaya raya yang memiliki kebun delima yang cukup luas. Ia bekerja sebagai penjaga kebun itu. Keramahan dan kehalusan tutur sapanya, membuatnya disenangi semua temannya dan penduduk di sekitar kebun.

Suatu hari pemilik kebun itu memanggilnya dan berkata: “Mubarak, tolong petikkan buah delima yang manis dan masak!”
Mubarak seketika itu bergegas ke kebun. Ia memetikkan beberapa buah dan membawanya pada Tuannya. Ia menyerahkan pada Tuannya. Majikannya mencuba delima itu dengan penuh semangat. Namun apa yang terjadi, ternyata delima yang dipetik Mubarak rasanya masam dan belum masak. Ia mencuba satu persatu dan semuanya tidak ada yang manis dan masak..

Pemilik kebun itu gusar dan berkata: ”Apakah kau tidak dapat membedakan mana yang masak dan yang belum masak? Mana yang manis dan mana yang masam?”


“Maafkan saya Tuan, saya sama sekali belum pernah merasakan delima. Bagaimana saya boleh merasakan yang manis dan yang kecut,” jawab Mubarak.


“Apa? Kamu sudah sekian tahun bekerja di weesini dan menjaga kebun delima yang luas yang telah berpuluh kali berbuah dan kau katakan belum merasakan delima. Kau berani berkata seperti itu!” Pemilik kebun itu marah merasa dipermainkan.

“Demi Allah Tuan, saya tidak pernah memetik satu butir buah delima pun. Bukankah anda hanya memerintahkan saya menjaganya dan tidak memberi izin pada saya untuk memakannya?” lirih Mubarak.


Mendengar ucapan itu pemilik kebun itu tersentak. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja. Ia lalu pergi bertanya kepada teman-teman Mubarak dan tetangga disekitarnya tentang kebenaran ucapan Mubarak. Teman-temannya mengakui tidak pernah melihat Mubarak makan buah delima. Juga tetangganya.

Seorang temannya bersaksi: “Ia seorang yang jujur, selama ini tidak pernah berbohong. Jika ia tidak pernah makan satu buah pun sejak bekerja disini bererti itu benar.”


***

Kejadian itu benar-benar menyentuh hati sang pemilik kebun. Diam-diam ia kagum dengan kejujuran pekerjanya itu.

Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali memanggil Mubarak:


“Mubarak, sekali lagi, apakah benar kau tidak makan satu buah pun selama menjaga kebun ini?”


“Benar Tuan.”


“Berilah aku alasan yang boleh aku terima!”


“Aku tidak tahu apakah Tuan akan menerima penjelasanku apa tidak. Saat aku pertama kali datang untuk bekerja menjaga kebun ini, Tuan mengatakan tugas saya hanya menjaga. Itu aqadnya. Tuan tidak mengatakan aku boleh merasakan delima yang aku jaga. Selama ini aku menjaga agar perutku tidak dimasuki makanan yang syubhat apalagi haram. Bagiku kerana tidak ada izin yang jelas dari Tuan, maka aku tidak boleh memakannya.”


“Meskipun itu delima yang jatuh di tanah, Mubarak?”


“Ya, meskipun delima yang jatuh ditanah. Sebab itu bukan milikku, tidak halal bagiku. Kecuali jika pemiliknya mengizinkan aku boleh memakannya.”


Kedua mata pemilik kebun itu berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan dan berkata, “Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutmu aku mengahwinkannya dengan siapa?”


Mubarak menjawab:

“Orang-orang Yahudi mengahwinkan anaknya dengan seseorang kerana harta. Orang Nasrani mengahwinkan kerana keindahan. Dan orang Arab mengahwinkan kerana nasab dan keturunannya. Sedangkan orang Muslim mengahwinkan anaknya pada seseorang kerana melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih, mahu masuk golongan yang mana? Dan kahwinkanlah puterimu dengan orang yang kau anggap satu golongan denganmu.”


Pemilik kebun berkata: ”Aku rasa tak ada orang yang lebih bertakwa darimu.”

Akhirnya pemilik kebun itu mengahwinkan puterinya dengan Mubarak. Puteri pemilik kebun itu ternyata gadis cantik yang solehah dan cerdas. Ia hafal kitab Allah dan mengerti sunnah NabiNya. Dengan kejujuran dan ketaqwaan, Mubarak memperoleh nikmat yang agung dari Allah Subhana wa ta'ala. Ia hidup dalam syurga cinta. Dari percintaan pasangan mulia itu lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama“Abdullah”. Setelah dewasa anak ini dikenal dengan sebutan “Imam Abdullah bin Mubarak” atau “Ibnu Mubarak”, seorang ulama di kalangan tabi’in yang sangat terkenal. Selain dikenali sebagai ahli hadis, Imam Abdullah bin Mubarak juga dikenali sebagai ahli zuhud. Kedalaman ilmu dan ketaqwaannya banyak diakui ulama pada zamannya.


Inilah Buah cinta yang Berasaskan Ketaqwaan, semoga kita dianugerahkan cinta yang disertai ketaqwaan...

Sumber: Copas dari note teman...^^

Lebih Baik Punya Suami dalam Kenyataan daripada Punya Pangeran dalam Impian


 Bismillahiirrahmaanirrahiim..........

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah

Diantara realita yang dijumpai pada sebagian wanita yang terlambat menikah terutama dikota metropolitan, dikarenakan sebagian mereka terbuai oleh idealisme mimpi, padahal tidak sedikit dari mereka yang umurnya mendekati atau mencapai kepala tiga. Sebagian mereka ada yang berkata, mengomentari temannya yang jauh umurnya dibawahnya ketika ia hendak menikah dengan berkata : “ apa tidak ada pilihan yang lain?” mengometari pilihan calon suami temannya. Padahal calonnya secara pisik termasuk orang yang Allah karuniakan fisik yang baik dan tidak sedikit yang bilang ganteng. Kalau dari sisi tanggung jawab, maka dia orang yang berusaha berpegang teguh pada agamanya dan orang yang bertanggung jawab. Adapun wanita tersebut tetap dalam mimpinya menanti pangeran dengan segala kreteria kesempuranaan daripada mempunyai suami dalam kenyataan walaupun umurnya telah mencapai 32 tahun.
Dan ada diantara mereka yang tidak menerima tawaran untuk proses sama seorang ikhwan sambil berkata : “ kreteria suamiku nanti yang tingginya diatas 170 cm” padahal dia sendiri tingginya jauh dibawah kriterianya disamping umurnya telah mencapai kepala tiga.
atau sebuah kisah yang diceritakan oleh orangnya sendiri.  “ Walaupun usiaku mendekati 40 tahun tetapi saya  tetap menginginkan  agar suami kelak adalah seorang  yang memilki kemuliaan, kemampuan materinya diatas pertengahan dan dia memiliki gelar yang tinggi. Tetapi sebenarnya saya setelah umur ini ketika saudara-saudara perempuanku mengunjungiku bersama para suami dan anak-anak mereka, saya merasakan kesedihan yang sangat dahsyat dan saya ingin seperti mereka, saya bisa mengunjungi kelurgaku dan bisa berpergian bersama suami dan anak-anakku.”
Atau kisah seorang wanita yang tetap memimpikan seorang pangeran  daripada mempunyai seorang suami dalam kenyataan.
“ Karena saya adalah wanita yang beruntung maka pemberian Allah kepadaku tidaklah berhenti sebatas ini, tetapi Dia (Allah) menumbuhkan saya ditengah-tengah keluarga kaya dan bangsawan, dan Dia menambahiku dengan akal yang cerdas, akal yang menjadikanku mampu menyelesaikan studiku dikuliah kedokteran dengan cepat. Dan selama seperti ini keadaanku maka saya  berhak untuk memilih suami yang pantas, orang yang memiliki keutamaan yang dia sukses dengan semua ini, kesatria, tinggi dibandingkan orang-orang lain yang ingin menikah, semakin hari semakin tinggi yang akan memuaskan duniaku. Dan telah membuatku takut ketika ibuku sering mengulang perkataannya yang merupakan pribahasa : “ Barangsiapa yang banyak pelamarnya maka dia akan gagal.” Tetapi saya tidak mau mengalah dan saya  tidak perduli dengan bergugurannya hari-hari disekitarku, serta usiaku yang telah melewati batas yang diperbolehkan. Maka mudah-mudahan saya akan mendapatkan kesatria yang lain yaitu pangeran impianku yang wajahnya bermain-main didalam angan-anganku dan yang dia berhak mendaptakan diriku.”
Inilah diantara wanita-wanita yang tertipu dengan idealisme mimpi. Bukan berarti seseorang tidak boleh memilih atau mempunyai kriteria tertentu untuk  pendamping hidupnya, selama tidak menyelisihi syar’i dan tidak berlebihan dan dengan melihat realita. Misalnya seseorang yang hidupnya sederhana, fisiknya dan tingginya pas-pasan ingin mendapatkan seorang jutawan yang ganteng bertubuh tinggi, walaupun banyak orang yang shaleh datang meminangnya lalu dia menolaknya…??. Mungkin ada pertanyaan yang menggelitik hati kita, sendainya dia menemukan pria impiannya apakah pria itu mau dengannya??. Bagaimana ketika seandainya ia menemukan pangeran impiannya sedangkan umurnya telah menacapai kepala tiga, sedangkan pangeran yang bertubuh tinggi, kaya dan genteng itu mencari seorang pendamping yang berumur 20 tahun ???. Disamping seharusnya yang menjadi patokan seseorang memilih pendamping hidupnya adalah seorang yang shaleh setelah itu boleh bagi dia memiliki kriteria tertentu asal tidak berlebihan dan melihat reliata. Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda : “ Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakkan yang besar “ (HR. At Tirmidzi, Al Baihaqi dan ini lafadznya, dihasankan oleh syaikh Al Al Bani)
Hasan Al Basri pernah ditanya “ Pria manakah yang engkau suruh untuk aku menikahkannya dengan putriku ? ” Hasan Al Basri Rahimahullah menjawab : “ Nikahkanlah ia dengan pria yang beriman karena bila ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Dan bila ia tidak mencintainnya maka dia tidak akan mendzaliminya “.
Tidak mengapa seorang mempunyai kreteria tertentu selama tidak menyelisihi syar’i, akan tetapi ingat patokannya adalah agamanya. Jika baik agamanya lalu ia mempunyai kriteri ingin mencari suami yang ganteng atau pondokkan tidak mengapa. Kalau seandainya sebagian kriterianya yang sangat penting telah terpenuhi, setelah istiqarah dia merasa cenderung dengannya, lalu ada kriteria lain yang tidak terpenuhi pada diri seseorang yang datang mengkhitbahnya kenapa dia harus menolaknya?. Misalnya seorang akhwat mencari ikhwan yang shaleh, ganteng dan pondokkan dan kalau bisa sudah mapan. Lalu ada seorang ikhwan yang mau mengkhitbahnya, seorang yang shaleh, pondokkan akan tetapi wajahnya biasa saja, tidak ganteng dan tidak juga jelek dan ia cenderung kepadanya setelah istiqarah walaupun juga belum mapan, lalu kenapa dia tidak menerimanya dan mengalah dengan sebagian dari syarat-syaratnya atau kriterianya…!!! Kalau dia menginginkan seluruh kriteria kesempurnaan dia ada pada calonnya, hal ini sangatlah sulit dan jika seandainya ada, mungkin diapun mencari orang yang sepertinya, apakah saudari termasuk kriterianya, seorang yang sholehah, cantik, hapalan minimal 5 juz, cerdas, dari keturunan yang baik, kaya, minimal tinggi 160 cm dan kriteria kesempurnaan lainnya…??
Lalu kenapa harus tetap menanti pangeran dalam impian daripada suami dalam kenyataan.
Wahai saudariku…, tidak inginkah kalian segera menikah dengan laki-laki shaleh pilihan kalian, hidup menjadi tenang yang dengan itu kalian menyalurkan kebutuhan biologis dengan cara yang halal dan aman sehingga terhindar dari maksiat dan mempunyai keturunan yang shaleh, buah hati kalian sebagaimana saudari-saudari kalian yang telah menikah.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Qs. Ar-Ruum : 21).
Rasullullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :  ” Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah  maka menikahlah dikarenakan  dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan  dan menjaga kemaluan  dan barangsiapa tidak mampu menikah maka baginya untuk berpuasa  hal itu sebagai tameng baginya “ ( HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu )
Tentu beda antara mempunyai seorang suami dalam kenyataan dari mempunyai pangeran dalam impian. Yang satu keberuntungan dan kebahagian dan yang satu ketertipuan dan  kesengsaraan.

Wallaahu A’lam

Selasa, 07 Juni 2011

DAUROH MASYAIKH 1432 H (2011 M)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.....

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu’alaihi wasallam hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, sebuah kabar gembira bagi kaum Muslimin di Indonesia. Pada tahun 1432 H (2011 M) ini, kembali akan dilaksanakan majelis ilmu bersama para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Timur Tengah.

Di antara masyayikh yang insyaallah akan hadir adalah:

1. Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri
2. Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri
3. Asy Syaikh Muhammad Ghalib, dan
4. Asy Syaikh Khalid bin Abdirrahman Jad

TEMA

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DALAM ISLAM BUKAN ANARKISME

Adapun pelaksanaannya sebagai berikut:

Majelis Khusus Asatidzah

Hari/Tanggal: Jumat-Jumat, 14-21 Sya’ban 1432 H | 15-22 Juli 2011
Tempat: Ma’had Al Anshar, Sleman, Yogyakarta

Majelis Umum

Hari/Tanggal: Sabtu-Ahad, 22-23 Sya’ban 1432 H | 23-24 Juli 2011
Waktu: Pkl. 09.00 sd selesai
Tempat: Masjid Agung Manunggal, Bantul, Yogyakarta

Penyelenggara:

Panitia Majelis Ilmu Nasional Ahlus Sunnah wal Jamaah
Jl. Godean KM. 5 Gg. Kenanga 268, Patran Rt.01/01 – Banyuraden-Gamping-Sleman-DI. Yogyakarta
Info Contact: 085747566736





HAID DAN SHOLAT

 Bismillah..........

Kita tahu, syariat telah menetapkan bahwa wanita yang sedang haid haram mengerjakan ibadah shalat. Kalau toh si wanita tetap mengerjakannya maka shalatnya tidak sah. Karenanya Rasulullah n bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy x:
فَإِذَا أَقبَلَتْ حَيضَتُكِ فَدَعِي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي
"Apabila datang haidmu tinggalkanlah shalat, dan bila telah berlalu mandilah kemudian shalatlah." (HR. Al-Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)
Rasulullah n juga bersabda menjelaskan sebab wanita dikatakan kurang agamanya:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تَصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟
"Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak puasa?" (HR. Al-Bukhari no. 304)
Shalat yang ditinggalkan selama masa haid tersebut tidak wajib diqadha. Tidak ada yang menyelisihi hal ini kecuali Khawarij, namun penyelisihan mereka tidaklah teranggap. Karenanya, ketika Mu'adzah, seorang wanita tabi'in, bertanya kepada Aisyah x:
ماَ بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِي الصَّلاَةَ؟ فَقَالَت: أَحَرُوْرِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلتُ: لَسْتُ بِحَرُوْرِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسأَلُ. قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.
Kenapa wanita haid mengqadha puasa tapi tidak mengqadha shalat? Berkatalah Aisyah, “Apakah engkau wanita Haruriyyah[1]?” Aku menjawab, “Aku bukan wanita Haruriyyah, aku hanya bertanya[2].” Aisyah berkata, “Dulu kami ditimpa haid, maka kami diperintah untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 321 dan Muslim no. 761)
Mendapati suci sebelum habis waktu shalat
Mayoritas ahlul ilmi berpendapat wajib bagi wanita yang semula haid kemudian mendapati suci sebelum habis waktu sebuah shalat fardhu untuk mengerjakan shalat fardhu tersebut. Misalnya, ia suci 20 menit sebelum keluar waktu dhuhur (untuk kemudian masuk waktu ashar), berarti ia wajib mengerjakan shalat dhuhur karena ia sempat mendapatinya dalam keadaan haidnya telah berhenti/selesai. Namun, ahlul ilmi ini berbeda pendapat tentang persyaratan mandi dan wudhu sebelum keluarnya waktu shalat tersebut. Mereka terbagi dalam dua pendapat:

Pertama: shalat tersebut baru wajib ditunaikan dengan syarat telah selesai mandi suci.
Maka bila si wanita mendapati dirinya suci dari haid pada akhir waktu shalat dengan kadar waktu yang tidak memungkinkan baginya untuk menyelesaikan mandi dan wudhu[3], tanpa ia mengulur-ulur waktu dan bermalas-malasan tentunya, maka tidak wajib baginya mengerjakan shalat yang telah keluar waktunya tersebut dan tidak pula mengqadhanya. Demikian pendapat Al-Imam Malik (Al-Kafi, 1/162), Al-Auza'i dan madzhab Zhahiriyyah.
Berkata Ibnu Hazm t, “Apabila seorang wanita telah suci pada akhir waktu shalat dengan kadar yang tidak memungkinkan baginya untuk mandi dan wudhu hingga habis waktu shalat, maka dia tidak wajib menunaikan shalat tersebut dan tidak pula mengqadhanya. Demikian pendapat Al-Auza'i dan teman-teman kami (madzhab Zhahiriyyah). Al-Imam Asy-Syafi'i dan Ahmad berkata, “Wajib bagi si wanita untuk mengerjakan shalat tersebut.” Abu Muhammad (kunyah Ibnu Hazm) berkata, “Bukti benarnya pendapat kami adalah Allah k tidak membolehkan seseorang mengerjakan shalat kecuali dengan thaharah (bersuci), sementara Allah telah menetapkan batasan waktu-waktu shalat. Maka, bila tidak memungkinkan bagi seorang wanita untuk berthaharah setelah suci dari haidnya dalam waktu shalat yang tersisa, kami di atas keyakinan bahwa si wanita tidak dibebani untuk mengerjakan shalat yang telah keluar waktunya tersebut. Karena saat ia mendapati sisa waktunya, ia belum berthaharah sehingga belum boleh menunaikannya." (Al-Muhalla, 1/395)
Kedua: Shalat yang masih didapati waktunya tersebut telah wajib ditunaikan si wanita sejak saat ia melihat dirinya telah suci[4], tanpa membedakan apakah ia bersegera mandi atau bermalas-malasan mandi hingga keluar waktu shalat tersebut. Demikian pendapat madzhab Hanabilah (Al-Mughni), satu pendapat dalam madzhab Syafi'iyyah (Al-Majmu', 3/69), pendapat Ats-Tsauri dan Qatadah. (Al Ausath, 2/248)
Argumen mereka adalah:
1. Ketika suci, si wanita berarti termasuk orang-orang yang wajib menunaikan shalat fardhu, hanya saja yang tersisa adalah mandinya. Setelah mandi suci baru ia menunaikan shalat fardhu yang tadi sempat didapatinya, sama saja apakah masih tersisa waktu shalat tersebut atau telah habis/keluar waktunya. (Al-Ausath, 2/248)
2. Mengamalkan zahir hadits Nabi n:
مَن أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَة
"Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat subuh sebelum matahari terbit maka sungguh ia telah mendapati subuh tersebut[5], dan siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat ashar sebelum matahari tenggelam maka sungguh ia telah mendapati shalat ashar tersebut[6]." (HR. Al-Bukhari no. 579 dan Muslim no. 1373)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Bila seseorang yang semula tidak wajib menunaikan shalat mendapati satu rakaat dari waktu shalat tersebut, maka wajib baginya menunaikan shalat tersebut. Hal ini berlaku pada anak kecil yang kemudian baligh, orang gila dan orang pingsan yang sadar dari gila atau pingsannya, wanita haid dan nifas yang telah suci, dan orang kafir yang masuk Islam. Siapa di antara mereka ini mendapati satu rakaat sebelum keluar/habis waktu shalat, wajib baginya mengerjakan shalat tersebut. Namun bila salah satu dari mereka mendapati kurang dari satu rakaat seperti hanya mendapati satu takbir, maka dalam hal ini ada dua pendapat Al-Imam Asy-Syafi'i t[7]. Pertama, tidak wajib mengerjakan shalat tersebut berdasarkan apa yang dipahami dari hadits di atas. Namun yang paling shahih dari dua pendapat yang ada menurut teman-teman kami (pengikut madzhab Syafi'iyyah) adalah tetap wajib menunaikan shalat tersebut, karena ia telah mendapati satu bagian dari shalat maka sama saja antara yang sedikitnya dengan yang banyaknya. Juga dipersyaratkan shalat itu dipandang dengan kesempurnaannya (dilihat secara utuh) menurut kesepakatan, maka sepantasnya tidak dibedakan antara satu takbir dengan satu rakaat.” (Al-Minhaj, 5/108)
Dari perbedaan pendapat yang ada, wallahu a'lam, kami lebih tenang kepada pendapat kedua, karena dalilnya lebih kuat dan lebih hati-hati. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t. Beliau menyatakan, tidak wajib bagi wanita yang suci dari haid mengerjakan satu shalat fardhu terkecuali ia mendapati waktunya sekadar satu rakaat yang sempurna. Bila demikian, wajib baginya mengerjakan shalat fardhu tersebut.
Misalnya, seorang wanita suci dari haid sebelum terbit matahari[8] sekadar satu rakaat. Maka, wajib baginya setelah mandi mengerjakan shalat subuh karena ia sempat mendapati satu bagian dari waktunya yang memungkinkan untuk mengerjakan satu rakaat. Namun bila ia mendapati sisa waktu shalat kurang dari satu rakaat (tidak memungkinkan untuk mengerjakan satu rakaat yang sempurna) seperti ia suci sesaat sebelum terbit matahari, maka shalat subuh tidak wajib ditunaikannya berdasarkan sabda Nabi n:
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ
"Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat maka sungguh ia telah mendapati shalat tersebut." (Muttafaqun alaihi)
Yang dipahami dari hadits di atas adalah orang yang mendapati kurang dari satu rakaat, kemudian waktu shalat habis, berarti ia tidak mendapati shalat. (Majmu' Fatawa wa Rasa'il Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 11/309)
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan t ketika menjelaskan hadits Rasulullah n:
مَن أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ
Beliau berkata, "Hadits di atas menunjukkan penunaian shalat tidak tercapai kecuali bila mendapati satu rakaatnya sebelum keluar waktunya. Siapa yang mendapati kurang dari satu rakaat, berarti ia tidak mendapati shalat pada waktunya. Ini merupakan pendapat jumhur ahlul ilmi, dan pendapat Syafi'iyah dan Malikiyah sebagaimana dalam Al-Majmu' (3/67) dan Mawahibul Jalil (1/407).
Sekelompok ulama berpendapat, bila sempat didapatkan takbiratul ihram berarti didapatkan shalat tersebut. Dengan demikian, menurut pendapat ini, bila seseorang telah bertakbiratul ihram sebelum habis waktu shalat berarti ia mendapati shalat tersebut pada waktunya, karena ia masuk dalam amalan shalat masih dalam batasan waktunya. Ini merupakan pendapat Hanabilah dan Hanafiyah sebagaimana dalam Al-Inshaf (1/439) dan Hasyiyah Ibnu Abidin (2/63).
Akan tetapi yang rajih adalah pendapat yang mengatakan tidak didapatkan shalat pada waktunya terkecuali bila sempat didapatkan satu rakaat yang sempurna, karena pendapat inilah yang ditunjukkan oleh hadits-hadits.” (Tas-hilul Ilmam fi Fiqh lil Ahadits min Bulughil Maram, 2/31)

Apakah ada keharusan menjamak dengan shalat yang sebelumnya?
Bila wanita haid telah suci pada waktu shalat ashar atau isya misalnya, apakah ia wajib mengerjakan shalat sebelum ashar yaitu dhuhur atau shalat sebelum isya yaitu maghrib?
Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan ulama.
Pertama: selain wajib baginya mengerjakan shalat yang masih didapatkannya waktunya yaitu ashar atau isya, ia juga wajib mengerjakan shalat fardhu yang sebelumnya, yaitu dhuhur dijamak dengan ashar, atau maghrib dijamak dengan isya. Demikian pendapat yang dipegangi madzhab Malikiyah (Al-Kafi, 1/162) Syafi'iyah (Al-Majmu' 3/69), Hanabilah (Al-Mughni, Kitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqt) dan pendapat Thawus, An-Nakha'i, Mujahid, Az-Zuhri, Rabi'ah, Al-Laits, Abu Tsaur, Ishaq, Al-Hakm dan Al-Auza'i. (Al-Mughni Kitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqt, Al-Ausath 2/244)
Namun kalau sucinya waktu subuh, atau dhuhur atau maghrib maka tidak ada kewajiban baginya menjamaknya dengan shalat fardhu sebelumnya, karena tidak ada jamak dalam penunaian shalat subuh dan tidak ada penjamakan dhuhur dengan shalat sebelumnya. Demikian pula maghrib dengan shalat sebelumnya.
Mereka berdalil dengan:
1. Atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas c dan Abdurrahman bin Auf z tentang wanita haid yang suci sebelum terbit fajar (sebelum masuk waktu subuh) dengan kadar satu rakaat (dia bisa mengerjakan shalat sebelumnya -pent.), maka ia menunaikan shalat maghrib dan isya. Bila sucinya sebelum matahari tenggelam, ia mengerjakan shalat ashar dan dhuhur bersama-sama (dijamak)[9].
2. Karena waktu shalat yang kedua (yaitu ashar bila dihadapkan dengan dhuhur, atau isya bila dihadapkan dengan maghrib) merupakan waktu shalat yang pertama tatkala ada uzur, seperti ketika dijamak dalam keadaan safar, atau saat hujan???, atau ketika di Muzdalifah. Misalnya ia menjamak shalat saat safar dengan jamak ta'khir, maka berarti ia mengerjakan shalat dhuhur di waktu ashar, atau shalat maghrib di waktu isya.

Kedua: Tidak ada kewajiban bagi si wanita untuk mengerjakan shalat yang sebelumnya. Bila ia suci di waktu ashar berarti ia hanya mengerjakan shalat ashar dan tidak ada kewajiban mengerjakan shalat dhuhur. Demikian pula bila ia suci di waktu isya, berarti ia hanya mengerjakan isya. Demikian pendapat dalam madzhab Hanafiyah (Al-Mabsuth, 3/15), Zhahiriyah (Al-Muhalla), pendapat Al-Hasan, Qatadah, Hammad ibnu Abi Sulaiman, Sufyan Ats-Tsauri (Al-Ausath 2/245, Al-Mughni, Kitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqt ) dan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir (Al-Ausath, 2/245).
Argumen mereka sebagai berikut:
1. Waktu shalat yang pertama telah habis tatkala ia masih beruzur (belum suci dari haidnya) maka ia tidak wajib menunaikannya. Sebagaimana bila ia tidak mendapati waktu shalat kedua, ia pun tidak mengerjakannya. (Al-Mughni, Kitabush Shalah, fashl Man shalla qablal waqt)
2. Sabda Rasulullah n:
وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ
merupakan dalil bahwa yang didapatinya adalah shalat ashar saja, bukan shalat dhuhur. (Al-Ausath, 2/245)
Dari dua pendapat yang ada, yang lebih kuat dari sisi dalil adalah pendapat kedua. Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menyatakan siapa yang mendapati satu rakaat shalat ashar maka tidak wajib baginya mengerjakan shalat dhuhur. Bila ada wanita yang suci dari haid sebelum tenggelam matahari dengan kadar ia bisa mendapati satu rakaat shalat ashar dengan sempurna atau bahkan dua atau tiga, maka wajib baginya mengerjakan shalat ashar tersebut, dan menurut pendapat yang rajih (kuat) tidak wajib baginya mengerjakan shalat dhuhur. Karena shalat dhuhur telah lewat dan telah habis waktunya pada saat si wanita belum termasuk orang yang wajib shalat (karena masih haid/belum suci). Seandainya shalat dhuhur tersebut wajib diqadha, niscaya akan diterangkan dalam Kitabullah atau Sunnah Rasulullah n. Rasulullah n dalam sabdanya:
وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ
hanya menyebutkan shalat ashar, dan tidak memperingatkan tentang kewajiban shalat yang sebelumnya yaitu dhuhur.
Kalau pun itu merupakan pendapat ulama, maka pendapat mereka bisa salah dan bisa benar. Dengan demikian, pendapat yang rajih adalah bila si wanita suci sebelum matahari tenggelam, tidak ada kewajiban baginya selain mengerjakan shalat ashar (dengan kadar bisa mendapati satu rakaat yang sempurna). Demikian pula bila ia suci sebelum berakhir waktu isya, tidak ada shalat yang wajib ditunaikannya selain shalat isya.
Adapun alasan mereka yang berpendapat adanya jamak dengan shalat yang sebelumnya karena dua shalat yang dijamak itu berserikat dalam waktu (dhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya) maka dijawab: Sungguh ucapan mereka itu bertentangan dengan pendapat mereka yang mengatakan, jika seorang wanita ditimpa haid setelah masuk waktu dhuhur misalnya padahal ia belum sempat mengerjakan shalat dhuhur, maka saat suci nanti si wanita tidak wajib mengqadha selain shalat dhuhur, adapun shalat setelahnya (ashar) tidak wajib ditunaikannya.
Lalu apa bedanya hal ini?!
Bukankah mereka mengatakan dhuhur dan ashar berserikat dalam waktu saat ada uzur? (Fathur Dzil Jalali wal Ikram, 2/71-72)
Dalil lain yang menunjukkan tidak wajibnya menunaikan shalat yang sebelumnya adalah sabda Rasulullah n:
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ
"Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat maka sungguh ia telah mendapati shalat tersebut." (Muttafaqun alaihi)
Huruf alif lam pada kata ash-shalah adalah lil 'ahd (menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui/tertentu) yakni seseorang mendapati satu rakaat dari shalat tertentu, bukan shalat yang sebelumnya karena sama sekali ia tidak dapatkan waktunya.
Sementara atsar dari sahabat, kalau memang shahih, maka dibawa kepada makna kehati-hatian saja, karena khawatir penghalang untuk mengerjakan shalat telah hilang sebelum habis waktu shalat yang pertama. Terlebih lagi keadaan haid, terkadang si wanita tidak menyadari ia telah suci dari haidnya terkecuali setelah lewat beberapa waktu. (Asy-Syarhul Mumti', 2/135-136)
Tertimpa haid ketika telah masuk waktu shalat
Bila seorang wanita yang suci mendapati waktu shalat fardhu telah tiba, namun belum sempat mengerjakan shalat, ia ditimpa haid, apakah ada tuntutan baginya berkenaan dengan shalat tersebut saat suci nantinya? Ataukah ada uzur untuknya?
Dalam hal ini ahlul ilmi juga berbeda pendapat.
Pendapat pertama: ia wajib mengqadha shalat tersebut, tanpa membedakan apakah ia hanya sempat mendapati sesaat dari waktu shalat tersebut, sekadar hanya bisa bertakbiratul ihram, kemudian haid menimpanya ataukah lebih dari itu. Demikian pandangan dalam madzhab Hanabilah (Al-Mughni), pendapat Asy-Sya'bi, An-Nakha'i, Qatadah dan Ishaq (Al-Muhalla 1/394).
Dengan dalil, si wanita telah mendapati bagian dari waktu shalat maka wajib baginya mengerjakannya saat telah hilang uzurnya, sebagaimana kalau ia suci dan sempat mendapati sisa waktu shalat walaupun sesaat, maka shalat tersebut wajib ditunaikannya. (Al-Mughni)
Pendapat kedua: bila ia mendapati waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut maka wajib baginya qadha saat suci nanti. Namun kalau waktunya tidak memungkinkan untuk menyempurnakan shalat maka tidak ada qadha baginya. Demikian yang dipegangi madzhab Syafi'iyah. (Al-Majmu', 3/71)
Pendapat ketiga: tidak ada qadha baginya. Ini pendapat Zhahiriyah (Al-Muhalla, 1/394) dan pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu' Fatawa, 23/335). Ini juga merupakan pendapat Hammad bin Abi Sulaiman, Ibnu Sirin dan Al-Auza'i (Al-Ausath 1/247, Al Muhalla).
Dalil mereka, Allah k menjadikan shalat itu memiliki waktu tertentu, ada awal dan ada akhirnya. Rasulullah n sendiri pernah mengerjakan shalat di awal waktu dan pernah pula di akhir waktu. Orang yang menunaikan shalat di akhir waktu tidaklah dianggap bermaksiat, karena Rasulullah n tidak mungkin melakukan maksiat. Bila demikian, ketika si wanita belum menunaikan shalat di awal waktunya, ia tidaklah disalahkan/dianggap berbuat maksiat. Bahkan hal itu boleh dilakukannya. Ketika ternyata sebelum shalat itu tertunaikan, haid menimpanya maka kewajiban shalat tersebut gugur darinya. (Al-Muhalla 1/394-395, Majmu' Fatawa, 23/335)
Kalau ada yang membandingkannya dengan orang yang lupa atau tertidur dari mengerjakan shalat hingga keluar waktunya[10], maka ini berbeda, kata Ibnu Taimiyah. Orang yang lupa atau ketiduran, bila memang ia tidak bersengaja menyia-nyiakan shalat, maka ia mengerjakan shalat tersebut saat ingat atau saat terbangun, sekalipun waktu shalat telah habis. Penunaian itu bukanlah teranggap qadha, tapi itulah waktu shalat baginya, sebagaimana sabda Rasulullah n, “Siapa yang tertidur dari menunaikan shalat atau ia terlupakan maka hendaklah ia shalat saat ingat, karena itulah waktu shalat baginya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[11]
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menyatakan pendapat yang menetapkan tidak ada qadha bagi si wanita kuat sekali. Karena tidaklah ia bermaksud meremehkan shalat dengan sengaja mengulur-ulur pelaksanaannya hingga ia diharuskan mengqadha shalat yang sempat didapatinya tersebut. Bila si wanita tidak meremehkan shalat dan ia pun diizinkan menunda shalat selama masih dalam batasan waktunya, lalu bagaimana kita mengharuskannya melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak wajib baginya? Akan tetapi bila shalat tersebut diqadha maka itu lebih hati-hati. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, hal. 71)
Beliau t juga mengatakan, tidak didapatkan penukilan bahwa seorang wanita bila haid di tengah waktu shalat sementara ia belum sempat menunaikan shalat tersebut, ia diharuskan mengqadhanya. Hukum asal adalah bara'ah dzimmah. Ini merupakan alasan yang sangat kuat. Namun kalau toh si wanita mengqadhanya dalam rangka berhati-hati maka hal itu baik. Akan tetapi bila ia tidak mengqadhanya, ia tidak berdosa karena ia menunda shalat, tidak mengerjakannya di awal waktu dalam keadaan waktu shalat masih ada[12]. (Asy-Syarhul Mumti', 2/131)
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan t berkata, “Adapula satu masalah berkaitan dengan hadits ini[13] yaitu bila seseorang mendapati waktu shalat seperti shalat ashar misalnya atau waktu dhuhur kemudian dia terhalang oleh satu perkara yang membuatnya tidak bisa mengerjakan shalat tersebut seperti kematian atau seorang wanita haid sebelum sempat mengerjakan shalat, apakah si wanita harus mengqadha shalat yang sempat didapatinya di awal waktu sebelum akhirnya ia ditimpa haid?
Dalam hal ini ada dua pendapat ulama:
Pertama: ia tidak mengqadha karena diperkenankan baginya menunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya.
Kedua: ia mengqadhanya karena ia sempat mendapati shalat tersebut di awal waktunya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu' Fatawa (23/334-335) menukilkan pendapat pertama dari Abu Hanifah dan Malik. Pendapat kedua beliau nukilkan dari Ahmad dan Asy-Syafi'i. Akan tetapi pendapat pertama lebih rajih/kuat, dengan alasan si wanita mengakhirkan shalat yang memang boleh baginya menundanya. Karena waktunya lapang/masih ada, lalu terjadi suatu perkara yang menghalanginya untuk menunaikan shalat yaitu haid yang bukan kemauannya sendiri, maka tidak wajib baginya mengqadha shalat. Demikian pula orang yang meninggal sementara telah masuk waktu shalat dalam keadaan ia belum sempat shalat, maka orang ini tak berdosa karena ia mengakhirkan shalat yang memang pada waktu yang diperkenankan.” (Tashilul Ilmam fi Fiqh lil Ahadits min Bulughil Maram, 2/31-32)
Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.


[1] Harura adalah sebuah negeri yang berjarak dua mil dari Kufah. Haruri/haruriyah merupakan sebutan bagi orang yang meyakini madzhab Khawarij, karena kelompok pertama dari mereka memberontak pada Ali bin Abi Thalib z di negeri Harura ini. Keyakinan mereka yang disepakati di antara mereka adalah mengambil apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan menolak secara mutlak tambahan yang disebutkan dalam hadits. Karena itulah Aisyah x bertanya kepada Mu'adzah dengan pertanyaan mengingkari. (Fathul Bari, 1/546)
[2] Karena menginginkan ilmu, bukan ingin menentang. (Fathul Bari, 1/546)
[3] Ia mendapati dirinya telah suci dari haid dalam keadaan masih tersisa waktu shalat namun ketika selesai mandi suci ternyata waktu shalat telah habis.
[4] Tentunya shalat tersebut baru ditunaikan setelah mandi suci. Kalau toh, waktu shalat tersebut telah habis ketika ia selesai mandi maka ia tetap menunaikannya.
[5] Bukan maksudnya ia cukup mengerjakan shalat subuh satu rakaat atau shalat ashar satu rakaat. Namun maknanya sekalipun ia hanya sempat mendapati waktu shalat sekadar menyelesaikan satu rakaat yang sempurna maka ia terhitung telah mendapati shalat secara sempurna, walaupun rakaat-rakaat yang berikutnya ia selesaikan dalam keadaan waktu shalat telah habis.
[6] Namun hadits ini jangan dipahami bahwa seseorang boleh menunda/mengakhirkan shalat ashar hingga tidak tersisa dari waktunya kecuali satu rakaat, atau boleh mengakhirkan shalat subuh hingga tidak tersisa dari waktunya kecuali satu rakaat. Yang semestinya dipahami dari hadits di atas adalah bila seseorang terhalang oleh suatu perkara, kelelahan yang sangat misalnya, hingga tidak mampu untuk segera mengerjakan shalat, atau merasa kesakitan dan menunggu sampai rasa sakit agak reda, atau uzur yang semisalnya –bukan karena malas, meremehkan dan sengaja mengulur-ulur waktu shalat sebagaimana perbuatan orang-orang munafik– hingga ketika tiba saatnya ia shalat, ia hanya mendapati kadar satu rakaat dari shalat tersebut setelah itu habis waktunya. Kami katakan kepada orang yang keadaannya demikian, “Engkau telah mendapati shalat tersebut sebagai keutamaan dari Allah k kepada hamba-hamba-Nya.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, Ibnu Utsaimin, hal. 71-72)
[7] Perbedaan pendapat ini akan dibicarakan kemudian.
[8] Sebagai tanda waktu subuh telah habis.
[9] Atsar dari Ibnu Abbas z ini diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya (no. 7206) dan selainnya. Namun dilemahkan sanadnya oleh Ibnu At-Turkumani dalam Al-Jauhar An-Naqi, karena dhaifnya perawi yang bernama Yazid bin Abi Ziyad sebagaimana dalam At-Taqrib. Di samping itu, Yazid mudhtharib dalam atsar ini, terkadang ia meriwayatkan dari Miqsam dan terkadang dari Thawus.
Namun Yazid diikuti oleh Laits ibnu Abi Sulaim dari Thawus, dan Atha' dari Ibnu Abbas z, dalam riwayat Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kurba (1/378). Akan tetapi Laits seorang rawi yang mukhtalith. Ibnu At-Turkumani juga mendhaifkan sanadnya.
Atsar yang kedua dari Abdurrahman bin Auf z, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (no. 7204) dan selainnya. Atsar ini dari maula Abdurrahman bin Auf, dari Abdurrahman, sama dengan atsar Ibnu Abbas. Kata Ibnu At Turkumani, maula Abdurrahman ini majhul. Abdurrazzaq juga meriwayatkannya dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Telah disampaikan oleh seseorang dari Abdurrahman bin Auf...”
Dalam sanadnya kita lihat ada jahalah (hanya dikatakan seseorang tanpa dijelaskan siapa dia) sehingga sanadnya juga lemah. Wallahu a'lam. (catatan kaki Asy Syarhul Mumti', hal. 133-134)

[10] Orang tersebut tetap wajib mengerjakan shalat yang luput darinya saat ia bangun atau saat ia ingat walaupun waktu shalat telah habis.
[11] Sehingga jelaslah perbedaan antara wanita yang tertimpa haid ketika waktu shalat telah masuk sementara ia belum sempat mengerjakan shalat tersebut, dengan orang yang ketiduran atau kelupaan dari mengerjakan shalat.
[12] Beliau memilih pendapat yang mengqadha dalam rangka kehati-hatian, wallahu a'lam. Walaupun di sisi lain beliau menguatkan pendapat yang tidak mengqadha.
[13] Yaitu hadits:
مَن أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

Sumber: http://www.asysyariah.com/sakinah/niswah/39-haid-dan-shalat.html

Senin, 14 Maret 2011

MAKSUD CALON YANG SEKUFU DALAM NIKAH : Apakah batasan kufu dalam pernikahan? Apakah adanya kecocokan hati, perasaan, cara berpikir, cara pandang dan kefaqihan dalam agama termasuk dalam kekufuan?




Apakah batasan kufu dalam pernikahan? Apakah adanya kecocokan hati, perasaan, cara berpikir, cara pandang dan kefaqihan dalam agama termasuk dalam kekufuan?
Dianwati
ummuyusufxx@myquran.com
Jawaban :
Para ahli fiqih (fuqaha) berbeda pendapat tentang kafa’ah (kufu) dalam pernikahan, namun yang benar sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma‘ad (4/22), yang teranggap dalam kafa’ah adalah perkara dien (agama). Beliau rahimahullah berkata tentang permasalahan ini diawali dengan menyebutkan beberapa ayat Al Qur’an, di antaranya :
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah-kabilah agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al Hujurat: 13)
“Orang-orang beriman itu adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10)
“Kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (At Taubah: 71)
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…” (An Nur: 26)
Kemudian beliau lanjutkan dengan beberapa hadits, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak ada keutamaan orang Arab dibanding orang ajam (non Arab) dan tidak ada keutamaan orang ajam dibanding orang Arab. Tidak pula orang berkulit putih dibanding orang yang berkulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dibanding orang kulit putih, kecuali dengan takwa. Manusia itu dari turunan Adam dan Adam itu diciptakan dari tanah.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bani Bayadlah: “Nikahkanlah wanita kalian dengan Abu Hindun.” Maka merekapun menikahkannya sementara Abu Hindun ini profesinya sebagai tukang bekam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah menikahkan Zainab bintu Jahsyin Al Qurasyiyyah, seorang wanita bangsawan, dengan Zaid bin Haritsah bekas budak beliau.
Dan menikahkan Fathimah bintu Qais Al Fihriyyah dengan Usamah bin Zaid, juga menikahkan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin `Auf.
Dari dalil yang ada dipahami bahwasanya penetapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah kufu adalah dilihat dari sisi agama.
Sebagaimana tidak boleh menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki kafir, tidak boleh pula menikahkan wanita yang menjaga kehormatan dirinya dengan laki-laki yang fajir (jahat/jelek).
Al Qur’an dan As Sunnah tidak menganggap dalam kafa’ah kecuali perkara agama, adapun perkara nasab (keturunan), profesi dan kekayaan tidaklah teranggap. Karena itu boleh seorang budak menikahi wanita merdeka dari turunan bangsawan yang kaya raya apabila memang budak itu seorang yang ‘afif (menjaga kehormatan dirinya) dan muslim. Dan boleh pula wanita Quraisy menikah dengan laki-laki selain suku Quraisy, wanita dari Bani Hasyim boleh menikah dengan laki-laki selain dari Bani Hasyim. (Zaadul Ma‘ad, 4/22)
Sumber: http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/munakahat-keluarga/batasan-kufu-dalam-pernikahan/

Pendiri Wahabi adalah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum wafat 211 H. Bukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat 1206 H


Sebenarnya, Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.

Untuk menciptakan permusuhan di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum munafikun memancing di air keruh dengan menyematkan baju lama (Wahabi) dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya untuk menghantam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau setiap dakwah mana saja yang mengajak untuk memurnikan Islam. Karena dakwah beliau sanggup merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan kaum durjana dan melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau dianggap sebagai penghalang yang mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri Islam.

Contohnya: Inggris mengulirkan isue wahabi di India, Prancis menggulirkan isu wahabi di Afrika Utara, bahkan Mesir menuduh semua kelompok yang menegakkan dakwah tauhid dengan sebutan Wahabi, Italia juga mengipaskan tuduhan wahabi di Libia, dan Belanda di Indonesia, bahkan menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Padri sebagai kelompok yang beraliran Wahabi. Semua itu, mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan terhadap pengaruh murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengobarkan jihad melawan Imperialisme di masing-masing negeri Islam.

Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor:

1. Tuduhan itu berasal dari para tokoh agama yang memutarbalikkan kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih dan para wali.

2. Mereka berasal dari kalangan ilmuwan namun tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, bahkan mereka hanya mendengar tentang beliau dari pihak yang sentimen dan tidak senang Islam kembali jaya, sehingga mereka mencela beliau dan dakwahnya sehingga memberinya sebutan Wahabi.

3. Ada sebagian dari mereka takut kehilangan posisi dan popularitas karena dakwah tauhid masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan proyek raksasa yang mereka bangun siang malam.

Dan barangsiapa ingin mengetahui secara utuh tentang pemikiran dan ajaran Syaikh Muhammad (Abdul Wahab) maka hendaklah membaca kitab-kitab beliau seperti Kitab Tauhid, Kasyfu as-Syubhat, Usul ats-Tsalatsah dan Rasail beliau yang sudah banyak beredar baik berbahasa arab atau Indonesia.



FATWA AL-LAKHMI DITUJUKAN KEPADA WAHABI (ABDUL WAHHAB BIN ABDURRAHMAN BIN RUSTUM) SANG TOKOH KHAWARIJ BUKAN KEPADA SYAIKH MUHAMMAD ABDUL WAHAB

Mengenai fatwa Al-Imam Al-Lakhmi yang dia mengatakan bahwa Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij. Maka yg dia maksudkan adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya  bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Hal ini karena tahun wafat Al-Lakhmi adalah 478 H sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M. Amatlah janggal bila ada orang yg telah wafat namun berfatwa tentang seseorang yg hidup berabad-abad setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum maka  dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikut Al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara dan fitnah Wahhabiyyah Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi hubungan antara Najd dgn Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh. Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah Khawarij yg diperingatkan Al-Lakhmi adl Wahhabiyyah Rustumiyyah bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. [Lihat kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi, juz 11.]

Perbedaan Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum Dan Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab

1.Da’wah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum (Khawarij)

Khawarij adalah salah satu kelompok dari kaum muslimin yang mengkafirkan pelaku maksiat (dosa besar), membangkang dan memberontak terhadap pemerintah Islam, dan keluar dari jama’ah kaum muslimin.

Termasuk dalam kategori Khawarij, adalah Khawarij generasi awal (Muhakkimah Haruriyah) dan sempalan-sempalannya, seperti al-Azariqah, ash-Shafariyyah, dan an-Najdat –ketiganya sudah lenyap– dan al-Ibadhiyah –masih ada hingga sekarang–. Termasuk pula dalam kategori Khawarij, adalah siapa saja yang dasar-dasar jalan hidupnya seperti mereka, seperti Jama’ah Takfir dan Hijrah. Atas dasar ini, maka bisa saja Khawarij muncul di sepanjang masa, bahkan betul-betul akan muncul pada akhir zaman, seperti telah diberitakan oleh Rasulullah.
“Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang usianya rata-rata masih muda dan sedikit ilmunya. Perkataan mereka adalah sebaik-baik perkataan manusia, namun tidaklah keimanan mereka melampaui tenggorokan Maksudnya, mereka beriman hanya sebatas perkataan tidak sampai ke dalam hatinya – red. Mereka terlepas dari agama; maksudnya, keluar dari ketaatan – red sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya. Maka di mana saja kalian menjumpai mereka, bunuhlah! Karena hal itu mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR. Al Bukhari no. 6930, Muslim no. 1066)


2. Da’wah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab (Ahlussunnah Wal Jama'ah)

Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau.

Syaikh berkata,
“Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat.

Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).

“Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36).